Rabu, 18 Mei 2011

LAS OAW

LAS KARBIT (OAW)   


  Las karbit atau las asetilen adalah alat penyambung logam melalui proses pelelehan logam dengan menggunakan energi panas hasil pembakaran campuran gas asetilin dan gas oksigen. Pengoperasiannya yang cukup mudah membuatnya sering digunakan untuk menghubungkan dua logam atau welding. Perangkat perbengkelan las karbit digunakan untuk memotong dan menyambung benda kerja yang terbuat dari
     Komponen-komponen Las Karbit (OAW) dan fungsinya :
1.       Tabung gas oksigen
     berisi gas oksigen yang berfungsi dalam proses pembakaran.
2.       Tabung gas asetilen
     berisi gas asetilen yang berfungsi sebagai bahan bakar dalam proses pembakaran.
3.       Regulator
     berfungsi untuk mengatur aliran dari masing-masing gas.
4.       Selang penyalur
berfungsi untuk menghubungkan atau mengalirkan gas dari tabung gas oksigen dan asetilen menuju          brander.
5.       Brander
     berfungsi untuk mengatur campuran gas oksigen dan asetilen serta pembakarannya.

A.                 Dasar Teori

  Pengelasan dengan gas dilakukan dengan membakar bahan bakar gas yang dicampur dengan oksigen (O2) sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu tinggi (3000o) yang mampu mencairkan logam induk dan logam pengisinya. Jenis bahan bakar gas yang digunakan asetilen, propan atau hidrogen, sehingga cara pengelasan ini dinamakan las oksi-asetilen atau di kenal dengan nama las karbit. Nyala asetilen diperoleh dari nyala gas campuran oksigen dan asetilen yang digunakan untuk memanaskan logam sampai mencapai titik cair logam induk. Pengelasan dapat dilakukan dengan atau tanpalogampengisi.Oksigen diperoleh dari proses elektrolisa atau proses pencairan udara. Oksigen komersil umumnya berasal dari proses pencairan udara dimana oksigen dipisahkan dari nitrogen. Oksigen ini disimpan dalam silinder baja pada tekanan 14 MPa. Gas asetilen (C2H2) dihasilkan dari reaksi kalsium karbida dengan air. Gelembung-gelembung gas naik dan endapan yang terjadi adalah kapur tohor. Reaksi yang terjadi dalam tabung asetilen adalah CaC2 + 2H2O ® Ca(OH)2 + C2H2
Nyala hasil pembakaran dalam las oksi-asetilen dapat berubah bergantung pada perbandingan antara gas oksigen dan gas asetilennya. Ada tiga macam nyala api dalam las oksi-asetilen sebagai berikut :

1. Nyala Asetilen Lebih (nyala karburasi)
     Bila terlalu banyak perbandingan gas asetilen yang digunakan maka di antara kerucut dalam dan kerucut luar akan timbul kerucut nyala baru berwarna biru. Di antara kerucut yang menyala dan selubung luar akan terdapat kerucut antara yang berwarna keputih-putihan, yang panjangnya ditentukan oleh jumlah kelebihan asetilen. Hal ini akan menyebabkan terjadinya karburisasi pada logam cair. Nyala ini banyak digunakan dalam pengelasan logam monel, nikel, berbagai jenis baja dan bermacam-macam bahan pengerasanpermukaannon-ferous

2. Nyala Netral
     Nyala ini terjadi bila perbandingan antara oksigen dan asetilen sekitar satu. Nyala terdiri atas kerucut dalam yang berwarna putih bersinar dan kerucut luar yang berwarna biru bening. Oksigen yang diperlukan nyala ini berasal dari udara. Suhu maksimum setinggi 3300 sampai 3500 oC tercapai pada ujungnyalakerucut.

3. Nyala Oksigen Lebih (nyala oksidasi)
     Bila gas oksigen lebih daripada yang dibutuhkan untuk menghasilkan nyala netral maka nyala api menjadi pendek dan warna kerucut dalam berubah menjadi ungu. Nyala ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi atau dekarburisasi pada logam cair. Nyala yang bersifat oksidasi ini harus digunakan dalam pengelasan fusion dari kuningan dan perunggu namun tidak dianjurkan untuk pengelasan lainnya.

   Proses las gas (pada tutorial ini akan sering disebutkan las gas untuk mencirikan bahwa las yang dimaksud adalah las yang melibatkan campuran gas Oksigen dan gas bahan bakar) umumnya dipakai secara manual yaitu dikerjakan oleh tangan juru las. Pengaturan panas dan pemberian kawat las dilakukan oleh kombinasi kedua tangan juru las. Oleh karena itu, kualitas sambungan nantinya akan dipengaruhioleh ketrampilan dan keahlian dari juru las. Sebenarnya sudah ada pengembangan dari proses las gas ini menjadi semi-otomatis atau “dimensikan”. Tentu saja hal itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan kualitas sambungan yang lebih baik. Dengan system yang sudah otomatis maka pengaturan panas dan pemberian kawat las akan lebih baik lagi. Kebanyakan otomatis system diterapkan apada operasi-operai pemotongan pelat logam dimana pada sistem itu kecepatan pemotongandapatdiatur.Proses las gas dapat dilaksanakan dengan pemberian kawat las (atau istilah logam pengisi) atau tidak sama sekali. Satu syarat dimana diperlukan logam pengisi atau tidak adalah dilihat dari ketebalan pelat yang akan di las. Jika pelat itu tipis maka untuk menyambungnya dapat dilakukan tanpa memberikan logam pengisi, sedangkan untuk pelat-pelat tebal diperlukan logam pengisi untuk menjamin sambungan yang optimal. Jika pada pelat tipis dipaksakan harus diberi logam pengisi maka hal itu mungkin saja dilakukan. Akan tetapi pada daerah sambungan akan nampak tonjolan logam las yang terlihat kurang baik.

Selasa, 19 April 2011

TUGAS RODA DAN BAN

Apa penyebab roda kemudi terasa bergetar saat berkendara?
Getaran pada kendaraan akan mengganggu kenyamanan selama berkendara. Getaran dibangkitkan oleh karena tidak adanya keseimbangan putaran pada komponen yang berputar. Apabila getaran yang terjadi pada roda kemudi saat kecepatan kendaraan semakin tinggi, kemungkinan besar penyebabnya adalah tidak seimbangnya putaran roda depan. Bisa juga karena kembang ban bergelombang atau benjol, velg oleng dan putaran roda tidak seimbang.
Munculnya getaran saat kecepatan rendah disebabkan oleh ban benjol, sambungan sistem kemudi (tie-rod, tie-rod end), pada suspensi (ball joint, knuckle arm). Sedang getaran yang timbul pada saat kecepatan tinggi disebabkan oleh roda tidak balance. Getaran ini merambat ke batang kemudi, sehingga roda kemudi akan terasa bergetar (shimmy).
Semakin cepat laju kendaraan, putaran roda pun akan semakin cepat. Kecepatan ini mengakibatkan gaya sentrifugal yang dibangkitkan semakin besar. Apabila putaran roda tidak seimbang (balance) maka getaran ini akan semakin besar lagi. Untuk mengatasi problem ini dengan membawa kendaraan ke bengkel untuk dilakukan pemeriksaan tie-rod, tie-rod end, ball joint, knuckle arm, kondisi ban dan mem-balance roda.
Pada sebuah kendaraan yang telah lama dipakai, keselarasan dan keseimbangan roda harus diperbaiki karena keausan komponen kaki-kaki mobil yang bisa menyebabkan terjadinya penyimpangan pada sudut kelurusan roda. Agar kesetabilan mobil tetap terjaga maka wajib hukumnya untuk melakukan spooring dan balancing secara berkala. Tujan utama dari proses spooring adalah untuk menyelaraskan antara posisi roda kanan dan kiri. Efek yang ditimbulkan dari tidak seimbangnya roda kiri dan kanan ini bisa membuat mobil limbung dan bahkan berat sebelah. Sedangkan balancing adalah untuk membuat roda belakang menjadi parallel dengan roda depan.
Balancing juga untuk menghindari adanya getaran kecil saat mobil dijalankan. Pada proses penyetelan harus diyakinkan bahwa roda belakang bener-benar parallel dengan roda depan karena roda belakang hanya mengikuti gerakan roda depan saat mobil di jalankan. Apabila kondisi ini tidak tercapai bisa menyebabkan ban Anda akan cepat aus dan kestabilan mobil tergangu.
Spooring dan balancing juga bertujuan untuk membuat keausan ban mobil merata sehingga pengendalian dan kenyamanan mobil tetap terjaga, efek limbung dapat terhindar dan keamanan berkendaraan pun senantiasa terjamin.
Gejala limbung juga bisa ditimbulkan oleh gangguan pada setir. Pada umumnya mobil sekarang sudah mengadopsi system kemudi ‘power steering’.
Gejala gangguan pada system setir ini beraneka ragam dan biasanya disebabkan oleh beberapa sebab berikut:
  1. Kemudi terasa berat akibat kendornya tali kipas dan juga mungkin oli kurangnya power steering.
  2. Getaran kuat pada kemudi akibat lemahnya system suspensi depan. Getaran ini juga disebabkan oleh longgarnya batang penyambung (long tie road) pada system kemudi.
  3. Penggunaan ban berjenis radial yang terlalu lebar dan tekanan angin yang berbeda untuk tiap ban akan mengganggu kinerja setir.
  4. Penyetelan sector shaft yang tidak tepat atau penyetel rack pada model rack and opinion terlalu kendur bias membuat gerak bebas setir berlebihan.
Gangguan pada setir akan sangat kita rasakan pada saat mobil berada pada kecepatan tinggi, makanya pengetesan spooring dan balancing perlu dilaksanakan pada saat mobil melaju pada kecepatan diatas 100 km/j, dimana gejala limbung itu bisa dirasakan.
Cara yang termudah dan termurah untuk mengetahui kapan waktunya mobil harus dilakukan spooring dan balancing:
  1. Apakah terjadi getaran pada setir yang menggangu kenyamanan Anda saat menyetir. Roda depan yang punya hubungan langsung dengan setir dan bertugas lebih ekstra memungkinkan keausan ban lebih cepat disbanding roda belakang.
  2. Pada saat mobil Anda melaju lurus kedepan, apakah Anda merasakan suatu belokan dengan sendirinya walaupun tanpa adanya perubahan kendali setir. Jika mobil cenderung membelok ke satu arah tertentu merupakan tanda adanya masalah spooring.
  3. Cobalah periksa keasusan ban mobil Anda, apakah terjadi keausan yang tidak wajar pada keempat roda mobil Anda, meliputi sisi, tapak dan bulu band. Apabila terjadi terjadi benjolan pada ban, berarti adanya system suspensi yang bermasalah pada ban tersebut.
  4. Kondisi setir yang yang tak nyaman bahkan lebih berat dari bisannya, atau saat pengendalian setir saat dibelokkan tidak mau kembali berputar pada posisi semula saat dilepaskan.
  5. Pada saat Anda membelokkan mobil, apakah Anda merasa adanya goncangan padahal kondisan jalan yang bagus.
  6. Apabila Anda merasa mobil yang Anda kendarai berjalan miring, ini tandanya mobil Anda sudah cukup parah dengan keseimbangan.
  7. Bila komponen system kemudi dan suspensi telah bergerak, sementara roda mobil Anda hanya bergerak lurus.
Tindakan preventif agar mobil Anda terhindah dari gejala limbung:
  1. Lakukan spooring dan balancing secara berkala. Karena tiap produk mobil memiliki system dan tehnologi yang berbeda-beda di bagian suspensinnya, maka disarankan untuk mengikiti buku panduan yang tersedia.
  2. Bila ingin merotasi ban, Rotasi ban harus dilakukan secara benar dan teratur akan memberikan keausan yang merata untuk semua ban di mobil Anda. Untuk mobil penggerak empat roda, dianjurkan melakukan rotasi ban setiap 5,000 kilometer (sumber: Goodyear).
  3. Pasanglah roda dengan mengikuti petunjuk arah putar yang tertera pada kulit ban dan berikan tekanan angin yang sesuai dengan buku petunjuk dari pabrik.
  4. Sebelum dimulai perbaikan spooring dan balancing lakukan pengecekan semua kondisi ban dan pelek, pengecekan bagian suspensi, hubungan pada setiap sambungan kaki-kaki, kondisi chasis serta bodi kendaraan.
  5. Untuk mendapatkan hasil spooring dan balancing yang maksimal, yakinkan bahwa bengkel yang Anda kunjungi memeliki peralatan standard dan sesuai dengan karakter mobil Anda.
  6. Hindari mengganti ban dengan mengunakan ban bekas, walaupun harganya murah resiko tinggi terhadap keselamatan.
  7. Apabila mengalami ban bocor/pecah dijalan, gunakan ban serep yang punya ukuran yang sama dengan ban aslinya. Kalau ban serep yang tersedia berbeda atau lebih kecil, pergunakan ban serep ini hanya untuk keperluan darurat sampai ban aslinya bisa diperbaiki.

        GANGGUAN PADA RODA / BAN
    1. KEAUSAN YANG TIDAK WAJAR : KEAUSAN SPOT [SPOT WEAR (CUPPING)]
        Keausan spot membentuk lekukan seperti
    mangkok pada beberapa bagian tread roda
    dan terjadi jika kendaraan berjalan pada
    kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi
    karena tread roda mengalami slip pada
    interval yang teratur, seperti diterangkan di
    bawah. Kalau bearing roda, ball joint, tie rod
    end, dan lain-lain mengalami keausan yang
    berlebihan, atau kalau spindle bengkok, ban
    akan bergoyang pada titik tertentu di saat
    berputar dengan
    kecepatan tinggi, sehingga mengakibatkan gesekan yang kuat dan menyebabkan terjadinya
    keausan spot. Teromol rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata menyebabkan
    terjadinya pengereman pada interval yang teratur, dan ini mengakibatkan terjadinya keausan spot
    dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.
    Adapun analisa gangguan keausan spot dan cara mengatasinya dapa dilihat pada flow chart di
    bawah ini,
    Aus atau longgar
    baik
    Aus
    baik
    Periksa bantalan roda Ganti atau setel
    GANGGUAN PADA RODA / BAN
    1. KEAUSAN YANG TIDAK WAJAR : KEAUSAN SPOT [SPOT WEAR (CUPPING)]
    Keausan spot membentuk lekukan seperti
    mangkok pada beberapa bagian tread roda
    dan terjadi jika kendaraan berjalan pada
    kecepatan tinggi. Keausan semacam ini terjadi
    karena tread roda mengalami slip pada
    interval yang teratur, seperti diterangkan di
    bawah. Kalau bearing roda, ball joint, tie rod
    end, dan lain-lain mengalami keausan yang
    berlebihan, atau kalau spindle bengkok, ban
    akan bergoyang pada titik tertentu di saat
    berputar dengan
    kecepatan tinggi, sehingga mengakibatkan gesekan yang kuat dan menyebabkan terjadinya
    keausan spot. Teromol rem yang telah berubah bentuk atau aus tidak merata menyebabkan
    terjadinya pengereman pada interval yang teratur, dan ini mengakibatkan terjadinya keausan spot
    dengan ukuran yang cukup besar melingkar pada ban.

                                                                        
                                                                                   sumber: http://unpourtous.wordpress.com